Rabu, 16 Desember 2009

Kepompong kupu-kupu

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-
kupu. Suatu hari lubang kecil muncul. Orang itu
duduk dan mengamati dalam beberapa jam ketika
kupu-kupu itu berjuang memaksa dirinya melewati
lubang kecil itu.Kemudian kupu-kupu itu berhenti
membuat kemajuan. Kelihatannya kupu-kupu itu
telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa
lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut
memutuskan untuk membantunya, dia ambil
sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari
kepompong itu. Kupu-kupu itu keluar dengan
mudahnya. Namun, kupu-kupu itu mempunyai
tubuh gembung dan kecil serta sayap-sayapnya
mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya
karena dia berharap bahwa, pada suatu saat,
sayap-sayap itu akan mekar dan melebar
sehingga mampu menopang tubuh kupu-kupu itu,
yang mungkin akan berkembang.

Namun semuanya tidak akan pernah terjadi.
Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa
hidupnya merangkak dengan tubuh gembung dan
sayap-sayap mengkerut. Kupu-kupu itu tidak
pernah bisa terbang.

Yang tidak dimengerti dari kebaikan orang tersebut
adalah bahwa kepompong yang menghambat dan
perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk
melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk
memaksa cairan dari kupu-kupu itu masuk ke
dalam sayap-sayapnya sedemikian rupa sehingga
dia akan siap terbang begitu dia memperoleh
kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita
perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan
kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin
melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat
yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak
pernah dapat terbang.

Kita mohon Kekuatan ...
Dan Tuhan memberi
kesulitan-kesulitan untuk membuat kita
kuat.

Kita memohon Kebijakan ...
Dan Tuhan memberi

kitta persoalan untuk diselesaikan.

Kita memohon Kemakmuran ...
Dan Tuhan
memberi kita Otak dan Tenaga untuk bekerja.

Kita memohon Keteguhan hati ...
Dan Tuhan
memberi kita Bahaya untuk diatasi.

Kita memohon Cinta ...
Dan Tuhan memberi Kita

orang-orang bermasalah untuk ditolong.

Kita memohon Kemurahan/Kebaikan hati ...
Dan
Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan.

Kita tidak memperoleh yang kita inginkan, kita

mendapatkan segala yang qta butuhkan..

20 Virus Kematian Motivasi

1. Atasan pilih kasih
2. Jika salah dikritik,benar tidak ada pujian
3. Hak-hak dicabut tanpa alasan
4. Informasi disembunyikan
5. Keahlian tidak digunakan
6. Kemampuan tidak dikembangkan
7. Ketidak jelasan job Discription
8. Kiri, kanan, atas, bawah Munafik semua
9. Masa Depan Karir tidak jelas
10. Pekerjaan Monoton
11. Penyakit KKN
12. Penyakit Sikut-menyikut
13. Peraturan yang irasional/tidak logis
14. Adanya perubahan tanpa adanya tujuan yang jelas
15. Pimpinan tidak Jujur
16. Rapat/Diskusi selalu tidak ada tindak lanjut
17. Saya harus disiplin tapi atasan tidak
18. Sedikit-sedikit kena marah
19. System tidak adil
20. Usul tidak diperhatikan

Semar Badranaya

Semar Badranaya adalah tokoh punakawan yang dalam wayang Jawa/Sunda memiliki peran yang lebih utama ketimbang wayang babon (wayang dengan tokoh asli India). Merupakan Jelmaan dari Bambang Ismaya anak tertua dari Sang Hyang Tunggal.

Kelahiran Semar
Sang Hyang Wenang berputra satu yang bernama Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal kemudian beristri Dewi Rekatawati putri kepiting raksasa yang bernama Rekata. Pada suatu hari Dewi Rekatawati bertelur dan dengan kekuatan yang menetap dari Sang Hyang Tunggal. Telur tersebut terbang menghadap Sang Hyang Wenang, akhirnya telur tersebut menetas sendiri dengan berbagai keajaiban yang menyertainya, dimana kulit telurnya menjadi Tejamantri atau Togog, putih telurnya menjadi Bambang Ismaya atau Semar dan kuning telurnya menjadi Manikmaya yang kemudian menjadi Batara Guru. Dalam riwayat lain telur tersebut menetas menajadi langit, bumi dan cahaya atau teja. Sehingga dikatakan bahwa Semar adalah tokoh dominan sebagai pelindung bumi.

Persaingan atas suksesi kepimimpinan
Mereka bertiga sangat sakti dan semua ingin berkuasa seperti Ayahandanya Sang Hyang Tunggal, akan tetapi menjadi perdebatan sehingga menimbulkan pertengkaran. Dikisahkan atas (kecerdikan (?) atau keculasan (?) Manikmaya) yang sebenarnya iapun mempunyai keinginan yang sama dengan mereka, Manikmaya mengajukan usul perlombaan untuk menelan gunung kemudian memuntahkannya kembali. Dari sini banyak pelajaran yang dapat diambil karena gunung itu merupakan sesuatu untuk menancapkan atau mengokohkan kedudukan dibumi akan tetapi diperlombakan untuk ditelan walau kemudian untuk dimuntahkan kembali.Kemudian pelajaran yang diambil adalah janganlah memperebutkan sesuatu yang bukan haknya serta janganlah terhasut oleh usul yang nampaknya baik dan masuk akal. Tejamantri yang mulai perlombaan pertama ternyata gagal untuk menelan gunung, dikarenakan tidak cukup ilmunya maka terjadi perubahan terhadap mulutnya. Bambang Ismaya kemudian berusaha untuk menelan sebuah gunung dan berhasil akan tetapi sesuatu yang sudah ditelan pasti akan berubah dan Bambang Ismaya tidak dapat memuntahkannya kembali sehingga terjadi perubahan fisik pada perutnya yang membesar. Secara ilmu memadai akan tetapi kurang untuk memuntahkannya kembali. Karena menelan gunung inilah maka bentuk Semar menjadi besar, gemuk dan bundar. Proporsi tubuhnya sedemikian rupa sehingga nampak sebagai orang cebol. Manikmaya dalam cerita tidak dikatakan mengikuti perlombaan meski ia sendiri yang mengusulkan perlombaan ini, ia dikabarkan malah pergi memberitahukan periha kedua kakaknya kepada Sang Hyang Wenang. Atas berita dari Manikmaya tersebut Sang Hyang Wenang membuat keputusan bahwa Manikmayalah yang akan menerima mandat sebagai penerus dan menjadi raja para dewa.

Akibat termakan hasutan dan tidak dapat menguasai diri
Bambang Ismaya dan Tejamantri harus turun kebumi, untuk memelihara keturunan Manikmaya, keduanya hanya boleh menghadap Sang Hyang Wenang apabila Manikmaya bertindak tidak adil. Dari sini terlihat dengan termakan isu adu domba ternyata Bambang Ismaya dan Tejamantri turun harkat derajatnya hanya sebagai pelindung keturunan Manikmaya, semoga kita dapat mengambil pelajaran disini dan semoga bangsa kita ini jangan mau diadu domba lagi. Dalam cerita Semar Gugat terjadi perselisihan antara Batara Guru yang menyamar menjadi Resi Wisuna dengan Semar dimana Batara Guru kehilangan nalarnya karena rasa kasih sayang terhadap anaknya Batara Kala. Semar mengalami perang tanding dengan Resi Wisuna yang tidak lain adalah Batara Guru/adiknya sendiri, dimana Semar terkena senjata Trisara sehingga menyebabkan Semar gugat ke Sang Hyang Wenang.

Turun derajat dan diganti nama
Sang Hyang Wenang kemudian mengganti nama-nama mereka.
1.Manikmaya menjadi Batara Guru.
2.Tejamantri berubah menjadi Togog.
3.Bambang Ismaya berubah nama menjadi Semar.

Tugas dan Jabatan Kakak dari Batara Guru yang menguasai Swargaloka. Berada di Bumi untuk memberikan nasihat atau petuah petuah baik bagi para Raja Pandawa dan Ksatria juga untuk audiens tentunya. Memiliki Pusaka Hyang Kalimasada yang dititipkan kepada Yudistira yang merupakan pusaka utama para Pandawa. Memiliki tiga anak dari Istrinya Sutiragen, dalam versi Jawa Tengah maupun Timur adalah : Gareng, Petruk, Bagong. Sedangkan dalam versi Sundanya bernama : Astrajingga (Cepot), Dawala, dan Gareng (bungsu). Semar Badranaya adalah tokoh Lurah dari desa (Karang) Tumaritis yang merupakan bagian dari Kerajaan Amarta dibawah pimpinan Yudistira. Meskipun peranannya adalah Lurah namun sering dimintai bantuan oleh Pandawa dan Ksatria anak-anaknya bahkan oleh Batara Kresna sendiri bila terjadi kesulitan.

Kehebatan Semar
Disini hanya akan diungkapkan sebagian saja dari kehebatan-kehebatan Semar, diantaranya adalah : Tokoh ini bersama tokoh punakawan lainnya dibuat oleh para wali diantaranya Sunan Kalijaga dalam menebarkan Agama Islam di Jawa yang melalui akulturasi budaya. Dengan adanya tokoh punakawan, pagelaran cerita wayang menjadi lebih hidup karena ada dialog dan interaksi antara dalang (wayang) dengan audiens serta merupakan sentral para dalang dalam menyampaikan nasihat nasihat dalam lakon atau pertunjukkan yang mungkin tidak dapat dicerna oleh orang awam bila tidak menggunakan tokoh tokoh punakawan. Istilah Pusaka Hyang Kalimusada merupakan perlambang Dua Kalimat Syahadat. Kehebatan lainnya adalah memiliki Wahyu Tejamaya, yang sangat diperebutkan oleh Pandawa maupun Kurawa atau siapa saja yang hendak memimpin alam ini, sebaiknya menguasai Wahyu Tejamaya ini. Karena Semar telah menelan gunung maka ada yang menganggap bahwa Semar merupakan lamabang dari alam semesta juga, dengan kata lain Semar dianggap sama dengan akal budi Ratu Adil, meskipun peranan Semar sebagai pembantu, perbuatannya menunjukkan bahwa ia adalah tokoh utama atau pokok dan bukanlah ia merupakan tokoh marjinal atau kecil yang tak berarti. Kesederhanaan pada umumnya orang Jawa menganggap sebagai tanda bahwa orang itu dapat menguasai diri dan sekitarnya dan juga mempunyai kekuatan mengekang nafsu keduniawian setiap waktu dan tidak terpengaruh olehnya. Sebagai tokoh yang tertua namun Semar tidak ingin memegang nafsu kekuasaan duniawi.

Pada dasarnya menurut mitos kesaktian Semar ini hampir tidak terbatas.

Semar Badranaya
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.